Pagi yang menggembirakan bagi seorang siswi SMA Taruna Semarang. Namun, sebenarnya hari itu cukap mendung, yach maklumlah,, kan musim hujan. Hari itu hari selasa, berangkat ke sekolah dengan wajah berseri sehingga yang melihatnya pun turut riang. Tak jauh dari tempatnya berada, “Kok sendirian Ranum?.” Seketika dia pun menjawab tanpa melihat yang menanyainya karena dia sudah hafal dengan suara itu. “Iya nggak pa-pa dunk sendirian? Kan sekarang juga ada kamu yang nemenin aku. Ya kan?”. Icha pun manggut-manggut dengan pernyataan Ranum itu, “Eh tapi kuk kelihatannya hari ini kamu seneng banget ya?.” “Yup bener banget! Tau nggak kenapa?.” Icha menggeleng kepala seraya berkata, “Ya nggak tau lah! Aneh lu!”. “Makanya kalau nggak tau tanya dunk!”. “Lha ini khan aku gy tanya! Gimana ce Num? Niat nggak kasih tau aku?.” “Iya iya non, gitu aja marah! Aku ini seneng gara-gara aku udah nemuin tambatan hatiku. Geto!” “Cieela yang dah nemuin cintanya. Kacih tau dunk capa orange? Ehhmm, tapi ati-ati lho ntar sakit hati.” “Ya nggak mungkin lah sakit hati, Insya Allah. Aku kan slalu bergantung pada Allah.” ” Ooo, cinta Islami nie critae?” “Yaiyalah!! Ranum gitu loh!” “Ya udah dech dilanjutin ntar lagi critanya, kita masuk dulu. Btw, udah ngerjain PeEr belum?” “O udah dunk! Ranum khan gy semangat!” Lalu mereka berdua menuju ke kelas mereka. Ranum dan Icha adalh temen dekat dan bisa disebut juga kaya’ friendship gitu. Jadi, nggak heran kalo apa yang mereka alami, satu sama lain pasti tau juga.
Hari yang melelahkan. Mereka baru saja menyelesaikan Try Out ke-4. Maklum, mereka khan kelas XII di SMA itu. Udah tua khan? Udah mau lulus juga. Mereka berharap lulus dengan nilai yang membanggakan, walau kita tau ujian itu nggak hanya kita aja yang mikir, hehehe. “Hah….! Menyebalkan! Sulit banget gitu loh tadi. Bener nggak Num?” “What??? Sulit katamu? Soal mudah juga, dibilang sulit! Ku ngerjakannya kan pake cinta.” “Iya iya yang gy kasmaran! Tapi ya jangan gitu dunk! Soal sulitnya minta ampun gitu kuq dibilang gampang. Aneh lu! Yach wajar lah kalo orang gy kasmaran ce gitu. Untungnya nggak cuma sekali ini aja aku ngadepi orang kasmaran kaya kamu. Bisa gila dech kalu seumpama belum pernah.” “Ya kamu harus sabar dunk! Namanya kasmaran, pengin terbang gitu bawaannya. Tyus juga pengin ketawa-tawa sendiri. Hehehe”, jawab Ranum cengar-cengir. “Oya tyus namanya capa cowokmu itu?” “Ye bukan sekedar cowok doank Cha… Pokoknya,, ehm……????????” “Ayo dunk! Jangan kebanyakan ehm,, ehm,, mulu! Nyebelin lu!” “Namanya istimewa banget. Namanya Hiro. Gimanah?” “Ehm anak mana?”, tanya Icha cepat. “Nggak jauh kuk dari rumahku. Tapi nggak tetangga. Ku udah sreg banget ma dia. Ya semoga aja Allah selalu ndeketin aku ma dia.” “Amin.”, jawab Icha singkat.
Tak terasa hari berjalan begitu cepat. Tinggal 1 minggu lagi Ranum akan melangsungkan ujiannya. Dia nggak pernah lupa dengan sholatnya, dengan puasanya. Itu memang suatu kegiatan yang biasa yangdilakukan oleh kebanyakan orang yang punya hajat besar, termasuk juga para siswa. Ranum memang tak pernah lupa dengan kewajbannya itu. Dia serasa jadi anak kesayangan Allah bila udah berinteraksi dengan-Nya. Tapi sebenarnya kehidupan Ranum itu beda dengan kebanyakan anak kainnya yang harusnya mendapat kasih sayang penuh dari orang tuanya. Dia cukup sabar dengan segala kehidupannya, walau terkadang rasa syukurnya hilang begitu saja. Orang tuanya sudah cerai mulai dari dia kecil. sekarang dia tinggal dengan ayahnya dan ibu tirinya. Mulai dari pernikahan ayahnya dengan wanita itu, kehidupannya pun juga ikut berubah. Yang dari awaldia bisa mengungkapkan rasa sayangnya kepada ayahnya, sejak itupun tak pernah bisa. Dia hanya bisa menahan perasaan kepada ayahnya dalam hati.
Malam yang berlalu tak pernah lepas dari air mata. Dia merasa jika sedang bersama teman atau jika sedang bersama kekasihnya. Malam ini dia pun menangis lagi. “Ya Allah, besok aku ujian, tapi kenapa aku tak bisa mendapat cinta sepenuhnyadari bapak? Aku rindu bapakku yang dulu Allah. Yang selalu peduli dengan segala keadaanku. Yang selalu memelukku di saat aku lemah. Yang selaulu ikut menangis jika ku sedang menangis. Namun mengapa sekarang Kau halangi sayang itu? Apa salah ku Allah? Aku hanya inginkan dia bisa kembali dalm kehidupanku sepenuhnya. Tapi terima kasih Allah, kini tlah Kau beri aku orang yang juga bisa mengerti diriku. mengerti segala keluh kesahku.”
Sejenak dia ingat 2 hari yang lalu, dia sedang bersama pujaan hatinya. Dia letakkan kepalanya di pundak Hiro. Pelukkan Hiro pun melayang untuknya. Dia serasa menjadi kekasih yang tersayang. Dia menceritakan semua yang dia alami, yang dia risaukan. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia luapkan semua saat itu. Dia juga ungkapkan kalau dia takut kehilangan kasih sayang dari orang-orang yang dia sayang, termasuk cintanya itu. Namun Hiro slalu memberinya semangat untuknya. HHiro yakin, bahwa kehidupan Ranum akan berubah pada saatnya nanti.
Beberapa menit dia kembali ke mas lalunya. Dia pun beranjak dari tempat sujudnya. Dia memegang buku yang akan menuntunnya memperoleh ilmu untuk bahan ujiannya. Masih jam 3 pagi, namun semangatnya membara. Dia belajar walau sebenarnya kantuk masih menerjangnya. Dia hiasi hatinya dengan semangat untuk ayahnya dan cintanya.
1 minggu berlalu, usai sudah ujiannya. Namun masih ada perasaan mengganjal dalam hatinya. Dia masih cemas dengan hasil yang akan dia peroleh. akankah baik ataukah malah sebaliknya? Mengecewakan ayahnya. Ketakutannya bertambah ketika 1 hari menjelang pengumuman hasil ujian.
Pas hari H, dia masuk sekolah dengan hati was-was. dia yakin lulus, tapi dia belum yakin kalau dia dapat hasil yang maksimal yang dia harapkan. Pengumumannya keluar. Tapi hasilnya jelek. Dia cuma dapet DANEM 47,70. “Wooow!!! Oh Got!!!”, hatinya berteriak histeris. Rasanya ingin menangis seketika tapi nggak bisa. Dia nggak berani pulang ke rumah. akhirnya dia putuskan untuk ke rumah cintanya.
Di rumah Hiro, “Cher, aku nggak berani pulang. DANEMku jelek. Gimana dunk?” “Lha udah biasanya jelek khan? pake nangis segale? Kalu aku mah nggak eprnah dapet nulai jelek!” “Hii,, nyebelin! Aku beneran cher!!!” “Lha trus sekarang maunya apa?” “Aku nggak mau pulang. di sini aja ya?” “Waduh!! Lha ntar klu di cari bapak gimana?” “Biarin! Nggak mungkin cariin aku tuch orang.” Ye jangan gitu. Mang dapet berapa ce?” “47,70″, jawabnya singkat. ” Rata-rata berapa tuch?” “7 koma ce. Hampir 8. Tapi ya tetep aja jelek.” “Lha trus mau sampai kapan di sini?” “Ya sampai berani pulang.” ” jangan lama-lama cher, ntar kasihan kalu di cari-cari.” “Iya iya, tapi nggak sekarang.”
Tak berapa lama ibunya keluar dengan membawa 2 mangkuk bakso. Berhubung Ranum malas makan, akhirnya dia manyuapkan bakso itu pada Hiro. Kasih sayang Hiro ke Ranum memang nggak bisa diragukan lagi. Tak berapa lama kemudian setelah makan bakso, Ranum minta di antar pulang. Waktu itu belum sampi rumah Hiro d telfon oleh bapak Ranum. Apakah Ranum bersamanya. Karena ranum takut, dia mohon ke Hiro agar nggak bilang keberadaannya dengannya. Terpaksa dech Hiro bohong. Padahal Hiro itu sosok orang yang jujur. Maaf ya Hiroku sayang.
Setelah itu, Ranum langsung pulang naik bus. Hiro pesan, supaya setelah sampai rumah Ranum langsung memberi kabar padanya. Tapi apa mau dikata? HP Ranum di rampas oleh ayahnya.
Setelah kelulusan berakhir, Ranum di antar ayahnya ke Surabaya untuk ikut ibu kandungnya. Wah… suatu anugrah Allah untuknya. Dia kuliah di Surabaya. Dan dia tetap dengan cintanya. Sampai suatu malam dalam sms-annya dengan Hiro, ada sustu pernyataan yang membuat hatinya gembira. Hiro, ingin jadi suaminya suatu saat nanti. Tapi sayangnya dia masih dalam ikatan kuliah. Sampai pada suatu kejadian, orang tuanya enyuruhnya agar fokus dengan kuliahnya. Dia sangat kecewa dengan semua ini. dia hampir putus asa. Namun tetap di tegarkannya hatinya itu.
Dalam sholatnya dia selalu berdoa agar Allah tak menjauhkan dirinya dari Hiro. “Ya Allah, izinkanlah hati yang sangat halus ini tidak pernah merasa tersakiti. Izinkanlah hati yang rentan ini tidak pernah merasa terkhianati. Jadikan dia imam bagiku” Selalu itu yang dia ucapkan. Dia harap Allah mengabulkannya.
DAn saat ini aku belum bisa memberikan ending dalam cerita ini, karena memang cerita ini masih berlanjut. Biarlah waktu yang akan menjawab nanti dan aku yang akan menuliskannya dalam cerita ini. Aku berharap, kisah ini dapat berakhir bahagia. Ku tau ini bukan dongeng, tapi bukankah stiap fikiran manusia itu akan menjadi nyata?. Makanya berfikir yang positif aja! Semoga indah. Semangat ya untuk yang menjalani dan jangan pernah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti terjadi. Karena biasanya apa yang kita khawatirkan itu tidak pernah terjadi. Berakhir indah ya! Amin.
God Blees You.